文章
  • 文章
扑克

Tiga WNI tewas dalam pertempuran di Filipina selatan?

2017年4月26日上午11:35发布
2017年4月26日上午11:35更新

BARANG DITEMUKAN。 Pasukan Pemerintah Filipina menyita sebuah perkemahan yang sempat dihuni oleh kelompok teror Maute。 Mereka juga menemukan beberap alat peledak dan bendera ISIS。 Foto oleh Richard Falcatan / Rappler

BARANG DITEMUKAN。 Pasukan Pemerintah Filipina menyita sebuah perkemahan yang sempat dihuni oleh kelompok teror Maute。 Mereka juga menemukan beberap alat peledak dan bendera ISIS。 Foto oleh Richard Falcatan / Rappler

雅加达,印度尼西亚 - Sebanyak tiga warga印度尼西亚,但是ikut tewas dalam pertempuran antara militer Filipina dengan kelompok teroris Maute pada Selasa,4月25日di Provinsi Lanao del Sur。 Menurut keterangan militer Filipina,serangan yang mereka lakukan telah menewaskan hampir 40 anggota kelompok militan yang loyal terhadap kelompok Negara Islam Irak dan Suriah(ISIS)。

Selain menewaskan tiga warga印度尼西亚,serangan itu juga menyebabkan satu warga马来西亚meninggal dunia。 Orang asing yang tewas dalam serangan tersebut merupakan bagian dari 160 pejuang kelompok militan Maute。

Kepala Panglima Militer Nasional Filipina Jenderal Eduardo Ano mengatakan serangan terhadap para pejuang kelompok Maute itu sudah dimulai sejak akhir pekan kemarin di Kepulauan Mindanao。

“Kami berhasil menewaskan sekitar 37 musuh,14 di antaranya sudah berhasil diidentifikasi dan 23 lainnya belum teridentifikasi,termasuk tiga warga Indonesia dan satu orang asal Malaysia,”ujar Ano kepada media di Manila。

Hingga saat ini masih belum diketahui dengan jelas dari mana angka jumlah musuh yang tewas tersebut dia peroleh。

Sementara,juru bicara brigade yang memimpin serangan di kota Piagapo di Provinsi Lanao del Sur,Letnan Kolonel Jo-ar Herrera mengatakan pasukannya di lapngan baru menemukan tiga jenazah。 Tetapi berdasarkan informasi dari informan dan penduduk setempat,jumlah korban tewas di kelompok ekstrimis itu jauh lebih tinggi。

Pasukan di lapngan juga menemukan beberapa paspor asing milik beberapa pejuang Kelompok Maute yang sudah tewas。 Ano menyebut beberapa di antara pejuang yang tewas dulunya merupakan anggota kelompok militan Jemaah Islamiyah(JI)yang menjadi otak serangan bom Bali di tahun 2002。

Kelompok JI diketahui memang sudah lama berada di selatan菲律宾人。 Bahkan,mereka juga ikut memberikan pelatihan militer bagi warga setempat。 Salah satunya mengenai bagaimana cara merakit bom。

Dalam serangan yang dilakukan pada akhir pekan kemarin,militer Filipina mengerahkan jet tempur FA-50,helikopter bersenjata dan pesawat yang dilengkapi amunisi serta bom。 Mereka menyerang markas Maute dan pada akhirnya mengambil alih。 Lokasi kamp itu mencapai tiga hingga empat hektare。

Dari hasil penggeledahan barang-barang milik Maute di kamp tersebut,pesonel militer Filipina berhasil menemukan beberapa benda antara lain granat,sebuah laptop,ponsel,alat peledak dengan teknologi cukup canggih dan sebuah kamera untuk merekam video perekrutan。

Kini,personel militer Filipina masih memburu lebih dari 100 anggota Maute yang kabur ke bukit。 Maute sendiri merupakan satu dari beberapa kelompok穆斯林bersenjata di bagian selatan菲律宾人。 Pemimpin mereka juga sudah menyatakan setiap kepada kelompok ISIS。

Belum terkonfirmasi

Sementara,Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri,Lalu Muhammad Iqbal mengatakan sejak mendengar adanya informasi tiga WNI yang tewas dalam pertempuran tersebut pihak KBRI sudah meminta konfirmasi mengenai pemberitaan itu。

“Angkatan Bersenjata Filipina(法新社)menginformasikan bahru akan dilakukan tes DNA terhadap 36 orang。 Tetapi,hingga kini tes DNA pun belum dilakukan,“kata Iqbal melalui pesan pendek pada Rabu,4月26日。

KJRI Davao mengaku memang memperoleh informasi dari otoritas setempat soal ditemukannya paspor Indonesia atas nama MIS。 Tetapi,hingga saat ini AFP belum memberikan konfirmasi di mana paspor itu ditemukan。

“Mereka juga belum menyampaikan informasi apakah paspor itu terkait dengan 36 orang yang tewas dalam serangan di Provinsi Lanao del Sur,”katanya lagi。 - dengan laporan AFP / Rappler.com