文章
  • 文章
扑克

Temui Kepala Kepolisian Australia,Tito fokus bahas pencegahan tindak terorisme

2017年4月26日下午7点22分发布
2017年4月26日下午7:22更新

PENUSUKAN。 Kapolri Jenderal Tito Karnavian(tengah)memberikan keterangan kepada sejumlah media seusai menjenguk Kapolsek Tangerang dan anggotanya yang menjadi korban penusukan simpatisan ISIS di Rumah Sakit Siloam Karawaci,Tangerang,Banten,Jumat,21 Oktober 2016. Foto oleh Moko WH / ANTARA

PENUSUKAN。 Kapolri Jenderal Tito Karnavian(tengah)memberikan keterangan kepada sejumlah media seusai menjenguk Kapolsek Tangerang dan anggotanya yang menjadi korban penusukan simpatisan ISIS di Rumah Sakit Siloam Karawaci,Tangerang,Banten,Jumat,21 Oktober 2016. Foto oleh Moko WH / ANTARA

YOGYAKARTA,印度尼西亚 - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian melakukan pertemuan dengan Kepolisian Federal Australia(AFP)di Yogyakarta pada Rabu 4月26日。 Dalam pertemuan双边杨rutin dilakukan setiap tahun tersebut,Kapolri membikrakan lima bidang kerjasama dengan AFP,antara lain penanganan terorisme,kejahatan siber,narkotika,perdagangan manusia dan penanganan masalah korupsi。

Oleh sebab itu Polri dan AFP mengembangkan program kerjasama dalam雅加达执法合作中心(JCLEC)di Semarang memiliki jangkauan pembelajaran yang lebih luas。 Menurut Tito,isu penanggulangan tindak terorisme menjadi prioritas yang dibahas kedua kepala kepolisian。

Yang difokuskan,kata Tito terutama menyangkut kaitannya dengan pemberantasan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah(ISIS)。 Kedua negara sama-sama menjadi korban dan kombatan dari kelompok pimpinan Abu Bakr Al-Baghadadi tersebut。 Sama seperti Indonesia,puluhan warga Suriah juga diduga berangkat menuju ke Suriah。

“Kami melihat adakah hubungan jaringan di sana dengan(yang ada)di Indonesia。 Juga masalah di Filipina selatan dan Timur Tengah juga kami bicarakan,“ujar Tito usai melakukan ramah tamah di Universitas Gadjah Mada pada Rabu,4月26日。

Isu kedua yang dibahas yakni menyangkut kejahatan siber。 Tito mengatakan ada banyak penipuan online,pornografi serta penyebaran informasi hoax yang meresahkan serta muncul di dua negara。

“Karena kedua negara sama-sama memiliki pengalaman itu,maka kami sepakat bekerja sama。 Kami juga melakukan tukar menukar teknologi,“kata dia。

Sementara,isu yang juga menjadi permasalahan tahunan bagi kedua negara yakni penyelundupan manusia juga dibahas dalam pertemuan tertutup di Hotel Grand Hyatt Yogyakarta。 Jika tahun lalu menjadi isu prioritas,namun tahun ini fokus kepolisian kedua negara telah bergeser。 Kendati begitu,mereka masih terus memantau pergerakan orang yang masuk ke Indonesia。

“Kini polanya ada orang dari daerah konflik yang ingin masuk ke澳大利亚tetapi kemudian transit di Indonesia,”tutur Tito。

Isu lain yang dibahas yakni soal penanganan tindak pidana korupsi。 Kepala kepolisian kedua negara mencari upaya bagaimana cara menekan dan bertukar informasi untuk memberantas tindak kejahatan itu。 Walaupun upaya itu belum mencakup upaya mencari aset korupsi milik WNI yang kemungkinan dilarikan ke negara kanguru tersebut。

“Belum sampai ke arah sana,tetapi kami saling menjajaki sekaligus ada best practice pencegahan dan penindakan”katanya。

Tito menjelaskan dengan adanya JCLEC,maka kepolisian kedua negara bisa membangun jaringan untuk menangani berbagai isu。 JCLEC merupakan计划kerjasama antara Polri dan AFP untuk melatih aparat kepolisian dalam penanganan kejahatan lintas negara termasuk terorisme。 Didirikan sejak tahun 2010,AFP turut berkontribusi dalam hal dana untuk operarasional institusi tersebut。 - Rappler.com