文章
  • 文章
扑克

Resmi ditutup,ini rekomendasi Kongres Ulama Perempuan Indonesia 2017

2017年4月27日下午11:44发布
更新时间2017年4月28日上午5:54

CENDERA MATA。 Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin(tengah)didampingi Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara(kanan)menerima cendera mata dari Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali I Nyoman Lastra(kiri)saat peresmian Gedung Balai Nikah dan Manasik Haji Kantor Urusan Agama(KUA)Kecamatan Denpasar Timur,登巴萨,巴厘岛,Sabtu,4月8日。 Foto oleh Wira Suryantala / ANTARA

CENDERA MATA。 Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin(tengah)didampingi Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara(kanan)menerima cendera mata dari Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali I Nyoman Lastra(kiri)saat peresmian Gedung Balai Nikah dan Manasik Haji Kantor Urusan Agama(KUA)Kecamatan Denpasar Timur,登巴萨,巴厘岛,Sabtu,4月8日。 Foto oleh Wira Suryantala / ANTARA

CIREBON,印度尼西亚 - Kongres Ulama Perempuan Indonesia(KUPI)2017 menghasilkan sebuah Ikrar Keulamaan Perempuan yang menegaskan kesetaraan antara ulama perempuan dan lelaki。 Ikrar itu dibacakan oleh perwakilan ulama perempuan saat penutupan KUPI 2017 yang berlangsung di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamiy Babakan Ciwaringin Cirebon,Kamis 4月27日。

“Kami dengan keyakinan sepenuh hati menyatakan bahwa:Perempuan adalah manusia yang memiliki seluruh potensi kemanusiaan sebagaimana laki-laki melalui akal budi dan jiwa raga。 Semua ini adalah anugerah Allah SWT yang diberikan kepada setiap manusia yang tidak boleh dikurangi oleh siapa pun atas nama apa pun,“demikian kutipan dari ikrar tersebut。

Dalam ikrar yang dibacakan oleh perwakilan ulama perempuan di hadapan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin,Wakil Ketua DPD RI,GKR Hemas,dan ratusan peserta KUPI itu,dinyatakan pula pengakuan terhadap eksistensi ulama perempuan yang telah hadir sejak masa Rasulallah SAW,namun keberadaan dan perannya terpinggirkan oleh sejarah yang dibangun secara sepihak selama berabad-abad。

“Dan eksistensi ulama perempuan juga kurang teraktualisasikan karena faktor budaya dan situasi sosial politik yang menghambatnya,”ujar Dewan Pengarah KUPI 2017,Badriyah Fayumi saat diwawancara menjelang acara Penutupan KUPI 2017,Kamis。

Ikrar tersebut,menurut Badriyah,merupakan rekognisi eksitensi ulama perempuan,baik dalam kehidupan berbangsa dan beragama。 Karena seperti halnya ulama lelaki,ulama perempuan juga memiliki hak dan kewajiban yang sama。

“Sebagaimana ulama laki-laki,ulama perempuan bertanggung jawab melaksanakan misi kenabian untuk menghapus segala bentuk kezalimanan sesama makhluk atas dasar apapun,termasuk agama,ras,bangsa,golongan,dan jenis kelamin。 Sebagai pengemban tanggung jawab ini,ulama perempuan berhak menafsirkan teks-teks Islam,melahirkan dan menyebarluaskan pandangan pandangan keagamaan yang relevan,“demikian kutipan ikrar tersebut。

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memuji terselenggaranya kongres ulama perempuan yang pertama di dunia ini。 Lukman mencatat ada tiga makna strategis dari pelaksanaan kongres yang diikuti lebih dari 500 peserta ini。

Pertama ,kata Lukman,kongres ini berhasil memperjuangkan keadilan melalui kesadaran peran dan relasi laki-laki dan perempuan。 Isu ini,menurut dia,ke depannya akan semakin memiliki relevansi dan urgensi yang semakin tinggi dengan memperjuangkan keadilan melalui kesadaran peran dan relasi perempuan dan laki-laki

“Terkadang bahkan seringkali,ayat-ayat suci karena pemahaman kita yang terbatas langsung maupun tidak langsung,ikut mempengaruhi aspek(keadilan gender)ini。 Karenanya,kongres ini memiliki peran yang sangat penting,untuk bagaimana keadilan relasi mesti senantiasa diperjuangkan,“ujar Lukman ketika memberi sambutan。

Kedua ,lanjut Lukman,kongres ini telah mampu melakukan tidak hanya pengakuan tetapi juga revitalisasi peran ulama perempuan sejak zaman Siti Aisyah hingga kini。

Makna yang ketiga ,Lukman mengatakan,KUPI berhasil meneguhkan dan menegaskan bahwa moderasi Islam harus senantiasa dikedepankan,yakni Islam yang moderat,Islam yang rahmatan lil alamin,dan Islam yang tidak menyudutkan posisi perempuan。

KUPI 2017 adalah kongres pertama yang dihadiri lebih dari 500 orang yang tidak hanya dari Indonesia saja,tetapi juga 15 negara lainnya dari seluruh benua。 Selain ulama perempuan dalam negeri,hadir pula ulama perempuan dunia,di antaranya Mossarat Qadeem(巴基斯坦),Zainah Anwar(马来西亚),Hatoon Al-Fasi(阿拉伯沙特),Sureya Roble-Hersi(肯尼亚),Fatima Akilu(尼日利亚),dan Roya Rahmani(印度尼西亚驻阿富汗大使)。 Kongres ini digelar selama tiga hari pada 25 hingga 4月27日。 - Rappler.com