文章
  • 文章
扑克

Ratusan orang hadiri pemakaman Mbah Gotho,manusia tertua di dunia

2017年5月1日下午8:57发布
更新时间2017年5月1日下午8:58

DISEMAYAMKAN。 Jasad Mbah Gotho disemayamkan di rumah duka sebelum dikebumikan pada Senin siang,1 Mei。 Foto oleh Ari Susanto / Rappler

DISEMAYAMKAN。 Jasad Mbah Gotho disemayamkan di rumah duka sebelum dikebumikan pada Senin siang,1 Mei。 Foto oleh Ari Susanto / Rappler

SRAGEN,印度尼西亚 - Manusia tertua di dunia asal Sragen,Sodimejo别名Mbah Gotho,akhirnya tutup usia pada Minggu sore,4月30日。 Dia meninggal di usia 146 tahun。

Pada siang tadi,jasadnya dikebumikan di pemakaman dekat tempat tinggalnya di Dusun Segeran,Desa Cemeng,Sambungmacan,Sragen,Jawa Tengah。 Sebenarnya,hari Minggu kemarin menjadi waktu yang dinantikan。 Sebab,sejak tahun 1992 lalu,dia sudah menginginkan agar ajal segera menjemputnya。 Walaupun pada kenyataannya,dia masih bertahan hidup 25 tahun kemudian。

Mbah Gotho sudah mempersiapkan berbagai perlengkapan pemakaman,termasuk nisan,peti mati dan jas ketika dia meninggal。 Di usia yang sudah sangat senja,Mbah Gotho sudah tidak lagi memiliki kawan sepantaran。 Empat istri dan anaknya telah lama meninggal。 Maka,dia hidup bersama cucu-cucunya。

“Si Mbah selalu mengatakan dirinya manusia yang tercecer di dunia dan Tuhan belum juga memanggilnya di usia yang kelewat renta,”ujar Suryanto,cucu yang merawat Mbah Gohto setiap hari kepada Rappler saat pemakaman。

Sebelum meninggal,Mbah Gotho sempat diraw​​at selama enam hari di RSUD Soehadi Prijonegoro Sragen sejak 4月12日lalu。 Hal itu lantaran HB nya sempat turun。

Setelah pulang,selama dua hari,Mbah Gotho hanya makan bubur sumsum。 Selain menu makanan itu,dia enggan makan dan minum hingga menghembuskan nafas terakhir。

Suryanto mengatakan kakeknya tidak memberikan pesan apa pun menjelang kematiannya。 Mbah Gotho ingin keluarganya ikhlas jika seandainya dia sudah tidak ada di dunia ini。

“Sebelum Mbah Gotho sakit,dia berkata'Seandainya saya diminta oleh Yang Kuasa,anak dan cucu saya harus mengikhlaskan saya',”ujar Suryanto menirukan ucapan sang kakek ketika itu。

Tak pernah ada keluhan

JASAD。 Jasad Mbah Gotho yang telah dirias dan diberikan pakaian jas。 Dia meninggal di usia 146 tahun pada Minggu,4月30日。 Foto oleh Ari Susanto / Rappler

JASAD。 Jasad Mbah Gotho yang telah dirias dan diberikan pakaian jas。 Dia meninggal di usia 146 tahun pada Minggu,4月30日。 Foto oleh Ari Susanto / Rappler

Mbah Gotho tercatat sebagai manusia tertua di dunia。 Hal itu dibuktikan dari Kartu Tanda Penduduk(KTP)yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil(Dispendukcatpil)Sragen。 Di dalam KTP tersebut,dia tercatat lahir pada tanggal 31 Desember 1870。

Karena tak ada saksi hidup,pembangunan Pabrik Gula Gondang pada 1880 menjadi patokan。 Mbah Gotho mengaku berusia sepuluh tahun saat pabrik gula itu didirikan。

Selama hidupnya,Mbah Gotho empat kali menikah。 Dia memiliki lima anak,25 cucu,27 cicit,dan 12 canggah。 Sebelum tahun 1993,Mbah Gotho diraw​​at Sukinem,anak dari istri keempatnya,Rayem。

Sukinem kemudian meninggal pada 1993. Mbah Gotho akhirnya diraw​​at oleh Suryanto,anak dari Sukinem。

Saat diwawancarai sejumlah media beberapa waktu lalu,Suryanto mengaku tak merasa keberatan untuk menjaga kakeknya。 Ia bersama istri dan dua anaknya sangat senang bisa merawat Mbah Gotho。 Apalagi,Mbah Gotho tak pernah sakit dan sangat mandiri。

Saat kali pertama tinggal bersama Suryanto,Mbah Gotho kerap berjalan-jalan sentirian dan mengurus pekarangan。 Saat itu,kondisi fisik Mbah Gotho masih prima。

Di usia senjanya,dia masih sehat meski staminanya tak lagi seperti dulu。 Tulang punggungnya tak lagi tegap sehingga Mbah Gotho harus menggunakan tongkat jika ingin berdiri atau berjalan。 Penglihatannya pun sudah berkurang meski telinganya kini kembali tajam usai mendapat bantuan alat pendengaran。

Aktivitas Mbah Gotho dimulai pukul 07.00 pagi,saat ia dimandikan Suryanto dan istrinya,Suwarni。 Usai mandi,Mbah Gotho merokok di depan rumah dan mengobrol dengan tetangga yang banyak berkunjung。

Kedatangan tetangga menjadi hal yang ditunggu-tunggu Mbah Gotho karena bisa menemaninya menunggu kedatangan Suryanto dan Suwarni yang berjualan di pasar,serta kedua cicitnya,Anisa dan Erika yang bersekolah。

Nyaris tak ada keluhan berarti akan kondisi kesehatannya。 Namun,pada 4月12日,Mbah Gotho dilarikan ke rumah sakit karena mengeluh tidak enak badan。 Ia diopname karena kekurangan asupan makanan。 Pihak rumah sakit sempat melakukan transfusi darah dan memberikan tambahan susu agar kondisinya pulih。

Dilepas ratusan orang

Ratusan orang melayat dan mengantar peti jenazah ke pemakamannya di Makam Tanggung,Desa Plumbon,Kecamatan Sambungmacan,sekitar 400米dari rumah duka。 Ketua DPRD Sragen Bambang Samekto dan Wakil Bupati Dedy Endryatno serta sejumlah anggota Muspika hadir dalam upacara pemakaman。 Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati yang berhalangan hadir tak lupa mengirimkan karangan bunga。

Sebelumnya,pelayat juga berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa。 Jenazah Mbah Gotho terbalut kemeja putih dan jas hitam,terbaring dalam peti mati berwarna putih。

Nisan berbentuk salib disiapkan di sisi peti mati。 Khotbah dari pendeta mengiringi upacara pemakaman Mbah Gotho。

Jasadnya dimakamnkan di samping Sukirah,anak perempuannya dan istri keempatnya yang sudah meninggal lebih dulu。 Penggalian dan penguburan jenazah dilakukan sendiri oleh semua cucu。 Selamat jalan Mbah Gotho! - Rappler.com